Berburu Penyu di Lombok


Pantainya indah, itulah yg memang bisa dinikmati di Lombok dan Pulau-pulau Gili disekitarnya dengan gratis. Wisata pantai, bermain air dan berdiam di pasir adalah tipe menikmati alam yang alami tanpa tambahan biaya. Selain pantai, secara umum Lombok dan pulau-pulau Gili sama saja dengan Bali, maksudnya dari segi hiburan: banyak area pertokoan, club dan cafe di pinggir pantai dengan mengekspansi bibir pantai. kalau di Gili yang akan sering kita temui adalah counter-counter jasa snorkling, toko bikini dan baju pantai super mahal, hotel mewah, penginapan, tempat latihan diving, spa dan pijat. Semua itu bisa ditemukan di Jogja, tempat saya tinggal, tempat-tempat itu ada di Bali dan Lombok, jadi mengapa harus ke Gili Trawangan?, pulau kecil ini sudah menjadi tempat yg berorientasi untuk mengeluarkan banyak uang. Dibanding liburan di pulau kecil yang tenang, Gili menawarkan banyak hiburan dan tempat memanjakan diri dengan mengeluarkan banyak uang. 

 Pelabuhan Lembar , naik Kapal dari Bali

Jadi karena dari berbagai pilihan hiburan atau pilihan wisata yang ada di Gili Trawangan kebanyakan tidak bisa kami jangkau, maka yang masuk akal dari banyaknya pilihan tersebut  adalah ikut paket Snorkeling, maka kami memutuskan untuk ikut rombongan snorkeling saja. Di Gili, terutama di Gili Trawangan, paket snorkling banyak sekali, bukan pilihan snorkling yang banyak, tetapi counter-counter yang memiliki jasa snorkeling cukup banyak bertebaran seperti counter pulsa kalau di Jogja, jadi tidak perlu langsung memutuskan untuk meng-iyakan jika di dekat pelabuhan kamu ditawari oleh orang-orang untuk menawarkan paket Snorkeling, karena di sepanjang jalan kamu bisa memilih jasa-jasa tersebut dengan berbagai kelas dan fasilitas. 

Lokasi snorkelingnya sih sama saja, Gili trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Tiga lokasi snorkeling ini biasanya harganya 100 ribu rupiah, sudah mendapakan live jacket dan kacamata snorkeling. Jika ingin menggunakan kaki katak, maka opsional dengan safety jacket tadi atau ada tambahan charge.


Kebetulan saat itu kami datang bukan saat high session, jadi wisatawan tidak terlalu ramai, perbedaannya ketika datang saat high season, ketika ikut paket snorkeling, kita akan berjubelan satu kapal dengan 60- 70 orang, entah ditaruh mana. 



Lokasi snorkeling pertama, yakni di area perairan Gili Trawangan, disini guide kapal memberikan iming-iming untuk mencari penyu, mula -mula kapal diarahkan di tempat dimana penyu lewat, dari lantai kaca kapal, kita bisa melihat dimana lokasi penyu tersebut, begitu penyu muncul, begitulah, kapal dihentikan dan kami disuruh nyebur. 'pyuk-pyuk' 'pyuk' kami berenang, oh iya gak ada fasilitas kamera underwater lho yaa dari counter jasa snorkeling, gak ada makan siang juga, jadi harap bawa perlengkapan foto underwater sendiri-sendiri dan uang saku untuk istirahat makan di Gili Air nantinya. 


Selfie boleh donk ya :)



Kami termasuk rombongan lain berenang-renang, saat itu entah ketemu penyu atau enggak pokoknya saya fokus mengamati terumbu karang dan berharap akan banyak ikan-ikan warna warni seperti saat saya ke Karimun Jawa, ternyata nggak ada, dasar laut yang dangkal hanya ditumbuhi terumbu karang yang tidak  berwarna-warni. Baiklah tidak perlu meminta yang tidak ada, saya langsung berenang naik ke kapal yang mengangkut kami. Akan tetapi sewaktu akan naik ke kapal, kru kapal bertanya, "lho, kok udah mau naik mbak? penyu nya udah lihat?", " nggak pak, saya jawab jujur saja, " lho gak mau cari penyu? nyemplung lagi nggak papa kok,". "capek pak".



Lokasi kedua adalah di Gili Air, terumbu karangnya kurang lebih sama, dan yang dicari juga sama, masih tentang penyu, tetapi tantangannya berat, sewaktu orang2 sudah pada nyebur, kapal tiba2 bergerak menjauhi kami yang masih kecipak2 nyemplung memandangi bawah laut. akibatnya, ketika saya sudah capek, dan bosan lalu ingin kembali ke kapal, saya harus jauh-jauh berenang mengayuh sambil memakai live jacket. Setiap ada ombak, kami berdua tersapu ombak dan mundur lagi, begitu aja terus, belum lagi banyak ubur-ubur yang sedari tadi menyengat badan, rasanya panas-panas gatal.



Mungkin maksud kapal tadi menjauh adalah, selagi kami memandangi bawah laut dan orang2 yang lain mencari penyu, para 'crew' kapal juga sedang mencari penyu tersebut, karena di spot pertama banyak yang tidak bisa melihat penyu. Sewaktu kami satu persatu kembali ke arah kapal salah satu guidenya berteriak bahwa dia menemukan penyu sedang berdiam diri diantara batu karang, sontak kita dipaksa untuk melihat ke dalam air dan ternyata sang guide juga sedang memamerkan atraksinya menyelam dan menyentuh cangkang penyu, para turis asing atau bule  yang sedang melihat 'nggumun', ter-nganga, entah dengan penyu atau atraksi bapak guidenya, yang jelas mereka langsung memotret. 


 Ini kapal yang sukanya menjauh

Padahal cuma penyu yang lagi 'leyeh-leyeh' di siang hari. Sementara orang-orang membenamkan kepala ke air, saya mah lewat ajaa, langsung naik lagi ke kapal. Daannnn waktu naik kapal salah satu crew lagi-lagi bertanya. "gimana lihat kan mbak tadi penyunya?". " ahh iya" jawabku sekenanya berharap akan memangkas pembicaraan, eh ternyata masnya nanya lagi, gimana mbak "unyu-unyu nggak?" , ha...ha.. ha... saya tertawa terpaksa aja. Kemudian mas-mas crew tadi menggodai mbak-mbak asal malaysia yang tidak mau nyebur karena takut " gimana mbak, sayang banget kan gak bisa nyebur lihat pennyu".

Hadduhh mas, ,, penyu mulukkk batinku.

Setelah dari tempat kedua dilanjut dengan makan siang di pulau Gili Air, ingat yaa makan siang tidak termasuk dalam paket snorkeling yang seratus ribuan, kita cuma diantar aja ke sebuah resto ala-ala pantai, ya mirip 'SS' kalau di Jogja, tapi menunyaa,, mahil. letaknya di tepi pantai, benar-benar ada meja kursi yang mereka letakkan di pasir pantai. Jadi bisa dibayangkan jika semua warung, hotel/penginapan, cafe berada di pinggir pantai, maka semakin sedikit pantai di pulau-pulau tersebut yang bisa dinikmati gratis, yang bisa dicebur-ceburin tanpa takut ada orang lagi makan melihat kita ber-ceburan.

Begitulah akhirnya karena lapar kami memesan makanan di resto yang direkomendasikan oleh crew snorkeling tersebut dan alamak mahalnya, kami cuma pesan nasi, plecing kangkung tahu dan tempe 2 porsi, air putih anget dan jeruk anget totalnya 120ribu, hahaha sudahlah,, namanya lagi liburan.

Setelah makan siang, seharusnya kami ikut rombongan lagi untuk nyebur di lokasi berikutnya di Gili Meno, tetapi karena saya sudah bosan, kaki pegal capek dan memang harus pesan kapal untuk kembali ke Lombok (pelabuhan Bangsal), kami berdua memutuskan untuk 'bye-bye' saja gak ikut rombongan. Sebenarnya bisa saja kalau ingin ikut rombongan lagi lalu nyebur-nyebur lagi dan sorenya kembali ke Gili Trawangan langsung ke pelabuhan pesan kapal ke pelabuhan... lombok. tetapi, serius, kami capek, jadi kami pulang ke Mataram saja.

 Keliling pulau menggunakan sepeda edit by +Angga Yuniar Santosa 

Kapal menuju Lombok (Pelabuhan Bangsal) untuk umum  atau mereka sebut dengan kapal publik, baru berangkat setelah penumpang memenuhi kuota sebanyak minimal 40 orang, jadilah kami menunggu.. menunggui.. menunggu.. saat itu masih jam 1 siang, sedangkan kapal publik biasanya berangkat jam 4-an, jadilah kami jalan-jalan, mencari pantai yang bisa dinikmati secara gratis melewati beragam tempat makan, cafe, juice shop, toko pernak pernik dll. Disini selain air mineral, kami sama sekali tidak tertarik untuk mangkal di cafe, hengot sambil ngecharge, biarkan saja baterai smartphone sudah mau habis, biarin aja gak gaul karena nggak nongkrong, jus nanas aja 20ribu, itupun kalau enak kita nggak menyesal lah ya.. Masalahnya mereka sama sekali membuat menu-menu tersebut dengan asal-asalan. Entahlah yang pasti dengan uang yang dikeluarkan dengan apa yang dinikmati itu sungguh berbanding terbalik.

Karena nggak mau yang mahal-mahal, syukurlah ada tukang cilok lewat di depan kami yang lagi duduk di bawah pohon pinus di pinggir pantai. beli 10ribu cuma dapat beberapa biji dan lagi-lagi kecewa karena tidak enak.. kami berdua 'ngekek'(ketawa terbahak-bahak) aja menyicipi satu suap cilok yang entahlah ini.. 'hahaa' bahkan cilokpun nggak enak. setelah itu kami tahan, tahan tahan lagi, mas suami menyibukkan diri dengan menggambar live sketch, menunggu sampai sore kira-kira kapal sudah memenuhi kuota.  



Apapun yang ditawarkan disini, sebenarnya hampir sama dengan di kota, cuma ya dengan kualitas yang lebih baik di kota, jadi teman teman yang tinggal di kota seperti di Jogja, Bali surabaya atau kota2 lain pasti juga nggak pengen-pengen banget mencicipi masakan disini karena disini nggak ada wisata kulinernya. Tahan aja sebentar sampai kembali ke Lombok, lalu bertolak ke Mataram, banyak hotel-hotel bagus dan terjangkau serta banyak kuliner khas yang enak di kota mataram. karena itulah kami hanya berkunjung satu hari saja di Gili Trawangan dan Gili Air dan kembali lagi tanpa menginap di salah satu pulau tersebut. Karena tidak suka kehidupan malamnya yang bisa ditebak akan  banyak pesta (karena sewaktu kami datang di pagi hari, botol-botol beer sedang  dikumpulkan oleh pemulung dengan pedati dan cafe-cafe masih banyak yang tutup), kami juga tidak bisa menjangkau biaya hotel sederhana tapi harganya yang cukup mahal. 

Menginap di Idoop Hotel, viewnya pantai (tapi bohong) pic from @palupilupitta 

Itung-itungan orang pelit yaa,, dengan uang 300ribu jika kita kembali ke Mataram, kita bisa menginap bahagia di hotel dengan bangunan baru  dan bergaya modern, daripada dengan biaya 500ribu dengan hotel yang interiornya jadul (aduh maaf), makanan kurang enak, berisik di malam hari. Party? kami tidak membutuhkannya, karena tidak suka tempat berisik, lagipula banyak tempat untuk party seperti itu di Bali atau nggak usah jauh-jauh di tempat tinggal sendiri di Jogja, banyak tempat party bareng-bareng bule seperti itu. Tetapi beda orang, akan beda selera liburannya, saya hanya memangkas sesuatu yang dirasa tidak dibutuhkan untuk memdapatkan sesuatu yg lebih bisa kami nikmati. 

1 komentar:

Posting Komentar

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author