Sketch Story: Bapak Seram Di Kereta Jogja - Banyuwangi



"Kalau menggambar orang-orang yang gak kenal gitu, harusnya minta ijin dulu " Begitu giba-tiba kata seorang bapak penumpang duduk di depan kami.

          Kami gak tau sih kalau menggambar itu harus minta ijin segalak, role nya kan seperti foto-foto informatif yang mengambil lokasi kejadian yang sebenarnya. Jadi, selama itu ruang publik, memotret kan boleh-boleh saja. Tapi apalah, kami waktu itu masih berfikir kalau generasi muda seperti kami ini tidak baik berkonfrontasi dengan generasi lampau yang rasa-rasanya tak pernah muda itu. Kami lalu minta maaf, kami mah gak berani ribut.. heheh.


     Sebenarnya sudah dari awal masuk kereta sih, penumpang yang ada di depan kami ini tidak gembira raut mukanya,sewaktu ditawari makan oleh istrinya saja, masih bisa menolak dengan cool. Matanya selalu waspada dan menyelidik, tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar sampai yapp begitulah, sampai melihat sketsa kami. jiahahaha....tapi beneran,waktu itu Mimpinglukis kaku juga berada didepan pasangan suami istri tersebut, terutama dengan suaminya, padahal Ibunya ramahhh dan mau mengajak ngobrol,dari obrolan itulah sang ibu ternyata ingin menjenguk putrinya yang sudah berkeluarga di Probolinggo. Ngobrol juga tentang putrinya yang tidak bisa masuk PNS, ehhmmm,,, tapi setelah diingat-ingat istrinya baru mau menyapa dan bercerita pada kami setelah suaminya keluar kereta sebentar untuk merokok, waktu itu pemberhentian di stasiun Surabaya dan pindah lokomotif, jadi lumayan lama kami berhenti.

     Sekarang, kami tidak punya sketsa asli foto bapak-bapak tersebut. Mood kami mendadak ciut dan tidak ingin meneruskan sketsa tersebut begitu si Bapak melontarkan pendapat bahwa ia tidak suka dirinya dan orang-orang di sekelilingnya di gambar tanpa ijin. Yaahhh,, padahal seseorang ibu-ibu yang duduk di bangku seberang kami seneng-seneng aja tuh lihat gambar yang sedang kami buat dan langsung menebak "Mahasiswa ISI ya?" (ternyata si ibu yang nanya itu dari Jogja juga), artinya apa? pertanyaan tersebut terdengar seperti pernyataan maklum. (Maklumlah cah ISI gaweane nggambar).

     Tapi ternyata ada juga orang yang tidak maklum, dan komentar kritik tersebut termasuk komentar langka bagi kami. Yawislah,,,,

Sketsa pertama

Foto sketsa pertama yang mengundang komentar dan grundelan si bapak 




Sketsa yang sebelumnya kami sobek lalu kami kasihkan ke sang istri sewaktu mereka akan turun dari kereta di stasiun tujuan dan gambar ulang lagi,,, :D :(


Sketch menggunakan Marker merk Play Color 2 warna Abu-abu


Ketika penumpang sudah banyak berkurang (Sketch menggunakan Marker Play Color warna Abu-abu)



Nb : Pelajaran dari pengalaman ini adalah,,jangan lagi deh menyerah dan mengalah begitu saja pada orang yang keliatannya galak atau pura-pura galak yang komentar kurang enak pada karya, komentar itu punya mereka, karya ini punya kami.. kami nyesel sketnya kami kasihin... hiks...Ditambah lagi, waktu kami memberikan sketsa tersebut ke sang istri sambil meminta maaf, si Ibu menerimanya dengan senang tetapi sembunyi-sembunyi, dilipat dan disembunyikan kayak habis nerima salam tempel, bilang terimakasih dengan nada suara pelan....lalu bergegas pergi karena sudah tertinggal agak jauh dari punggung suaminya.. kami hanya melongo saja,,,,, 


Fin...

0 komentar:

Posting Komentar

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author