Banyuwangi Kamu Campur-campur seperti Salad

         

           Deretan Hutan Mangrove, menyebrangi Sungai air Payau (segara anakan), blusukan melewati Hutan Tropis kemudian berhenti setelah menemukan ujung jalan yakni pemandangan air laut luas Pantai Selatan. Percaya atau tidak, semua itu ditempuh  hanya dengan satu jalur wisata yakni wisata Hutan Mangrove Bedul. Hutan mangrove tersebut masih merupakan bagian dari kawasan dari bentangan hijau Alas Purwo atau dikenal dengan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) yang begitu luas dan membentang di kawasan Banyuwangi Selatan. 

Jadi intinya ketika kita sampai pada hutan wisata Bedul ini, kita gak akan cuma ketemu hutan bakau ijo ijo, akar pohon yang melengkung kesana kemari ,becek-becek lumpur dan air menggenang di bawah dermaga atau trek jembatan kayu yang dibuat sebagai jalur untuk melihat kawasan hutan mangrove ini. Lebih dari itu, ternyata disini bisa ketemu pantai juga, bisa naik kapal menyebrangi segara anakan yang mirip danau juga (atau malah mirip sungai lebar di Palembang ya? pokoknya genangan air payau lah.), bisa nruthus di hutan belantara juga. Petualangan banget....

      

Jalan menuju Kawasan Wisata Blok Bedul 
pun sudah hutan seperti tak berujung

      Oh iya satu lagi, disini kita juga bisa melihat kawanan, habitat, sekumpulan, masyarakat monyet ekor panjang di daratan seberang. Pengunjung dapat menyebrangi segara anakan menggunakan kapal yang sudah disediakan oleh penduduk lokal yang mengatarkan kita pada daratan tempat habitat para monyet. Sekumpulan monyet tersebut sepertinya memang tinggal di hutan tropis di daratan seberang segara anakan itu. 

Mereka hidup di hutan, iya di hutan belantara yang tidak berpenghuni. Sebenarnya ada sih 'penghuni manusia' disana. Di daratan tersebut ada semacam pos Perhutani dan setiap harinya anggotanya aktif mengawaasi para pengunjung taman wisata Bedul ini. Tapi tetap saja, melihat manusia di hutan belantara begitu sih saya biasa-biasa saja, tetapi melihat monyet dan habitatnya, keluarga-keluarganya di sebuah hutan yang benar-benar hutan, merupakan pengalaman pertama kalinya.

        


 Satu Sketsa jadi sudah ini adalah sketsa berdiri yang berhasil ditakhlukan 
di cuaca yang panas membara ini, bukan hanya perspektif kertasnya yang berdiri, tetapi 
men-sketch-nya juga sambil berdiri :D lutut lemas? hemmm apa itu?? gak kenal deh :p





      Bayangkan monyet, oh bukan-bukan, banyak monyet, dari yang emak-emak, bapak-bapak dan yang masih kecil-kecil imut serta ABG juga ada, mereka berlari-lari, bergelayutan lalu melompat di pohon, berjalan melenggang menggunakan kedua kaki dan kedua tangannya di tanah,  bermain di lumpur di pinggir segara, mencari makanan diantara akar Mangrove, duduk-duduk juga bareng turis-turis lokal yang lagi ngadem di bawah pohon-pohon besar. Terus lagi selama mimpinglukis jalan menyusuri hutan tropis, beberapa dari monyet-monyet tersebut juga jalan begitu saja berlalu lalang seperti biasa layaknya kami hanya pendatang biasa. Ada juga sih yang awalnya bermain berlarian dengan temannya, kemudian melambat dan melihat mimpinglukis dengan tatapan aneh sewaktu berpapasan dengan mimpinglukis yang lagi jalan sambil komat-kamit. Jangan berfikir bahwa monyet tersebut akan menyerang, mengikuti para turis seperti mimpinglukis ini, atau "merampok" kresek Indo*aret yang kami bawa, Ketika berpapasan, kami hanya saling melihat, kemudian sedikit seperti menyapa dan mereka berlalu, Kalau dipikir-pikir bukankah itu seperti situasi di kampung halaman??.

      Bayangkan betapa anehnya jika mimpinglukis yang selama ini hanya melihat monyet-monyet seperti itu di dalam kandang di pinggir jalan raya (dirantai dan dijual), di perempatan jalanan kota sambil membawa payung, di depan rumah dengan rantai kaki, di dalam siaran TV atau melihat lewat mata pandang Nat-Geo. Disini mimpinglukis benar-benar bisa merasakan sensasi alami bersosialisasi bersama, ya itu bersosialisasi dengan penduduk asli sini........



Setelah melewati Hutan Tropis yang kanan kirinya tidak berujung ini dan berpapasan dengan masyarakat monyet, ketemulah kita dengan laut selatan. tapi gak boleh mandi di pantai, arusnya bahaya, "arus seret" kata papan caution-nya..


      Tentu saja, meskipun pengunjung yang datang disini adalah tamu, tidak seorang tamu pun yang diijinkan untuk melempari monyet-monyet ini makanan selayaknya monyet di kebun binatang atau di halaman rumah. no,,nooo.. kita harus datang dengan sopan dan saling menghormati, tidak ada yang primitif dan ber-adab, jikalau datang sebagai tamu yaa monyet-monyet ini mempersilahkan selama kita tidak membuang sampah sembarangan. 

Dari yang mimpinglukis lihat, monyet-monyet disini tidak menyerang manusia, tidak merampas barang bawaan terutama bekal yang dibawa manusia karena, memang pihak Taman Nasional tidak memperbolehkan memberikan makanan kepada monyet-monyet disini. Tempat ini adalah Hutan lindung, mereka masih bisa makan kenyang dari hasil kekayaan hutan tanpa pemberian dari manusia. Begitulah, mimpinglukis senang sekali disini, sampai tidak sadar kalau di tempat wisata ini mimpinglukis sudah membuat tiga sketsa secara langsung....beuhh.....


Ada kulit kerangg,,,,,,,,,,,mari digambarin


Kerang pantai ouh yeahh....



Membawa Payung di pantai yang terik ini sangatlah berguna, 
bapak-bapak disana memang siaga benar..


Sketsa ketiga "Bapak berpayung dan anak-anaknya" dengan media kembali 
menggunakan Sketch Book


Pantai di Banyuwangi yang begitu HOT


Mimpinglukis mbahas monyet panjang banget, tetapi foto-fotonya pantai,, hahaha gakpapa, tetap  Follow IG Mimpinglukis yuahhhh
@mimpinglukisartstudio
@palupilupitta
@anggayuniars

See-u untuk foto-foto Sketsa unik dari +mimpinglukis art studio  @mimpinglukisartstudio


















0 komentar:

Posting Komentar

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author