Pameran Tunggal Seni Visual "Holes Arround Me" oleh Angga Yuniar Santosa

Mimpinglukis Art Studio mengundang teman-teman untuk menghadiri Pameran Tunggal Seni Visual "Holes Arround Me" oleh Angga Yuniar Santosa.
Hari : Senin
Tanggal : 15 Desember 2014
Pukul : 18.00wib
di : Tembi Rumah Budaya
jl. Parangtrtis km.8,4





Tulisan oleh  Palupi Setiani

Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera

Agak sulit memang untuk didefinisikan bagaimana Karya Angga Yuniar yang dipamerkan dengan judul “ Holes Arround me” ini terhubung satu sama lain. Apabila kita mengamati satu persatu karya, kemudian membandingkan, mengamati dan mencari titik temu, agaknya setiap karya seolah mempunyai cerita tersendiri. Atau mungkin satu karya dengan yang lain memang tidak perlu untuk saling terhubung. Namun, apakah benar karya-karya tersebut tidak terhubung?.

Program Residensi yang diadakan oleh Tembi Rumah Budaya ini berlangsung selama 3 bulan. Dalam waktu yang diberikan selama 3 bulan tersebut, Angga Yuniar memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari dan mengamati apa yang ada di sekitar, melihat dari yang terdekat dan terjangkau. Pengamatan secara langsung adalah upaya untuk memaksimalkan seluruh kemampuan indera untuk lebih sensitif melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi pada lingkungan sekitar. Pengamatan secara langsung juga membuat seseorang merekam sebuah proses perkembangan, kemajuan maupun kemuduran sebuah fenomena ataupun realitas yang ada disekitar. (Spradlay (1980) dalam Sugiyono (2011 : 310-317).
 Dari sebuah metode pangamatan tersebut, selain menuntut pengamat untuk lebih sensitif dan lebih kritis terhadap apa yang ia amati. Dari situlah pengamat harus mendiskripsikan apa yang ia amati. Selanjutnya dari semua proses tersebut Angga Yuniar mengolahnya menjadi sebuah analisis yang berbentuk karya seni. Misalnya karya yang berjudul (yang gerbang), karya tersebut seolah ingin menceritakan sebuah realitas yang sedang dihadapi oleh Kota Yogyakarta yang makin berkembang menjadi “ kota harapan”. Kota dimana pembangunan fasilitas pariwisata yang seolah tidak ada hentinya. Lahan yang semula kosong siubah menjadi gedung tinggi untuk menyediakan akomodasi bagi keperluan turisme. Dari banyaknya proses pembangunan gedung-gedung baru tersebut memunculkan sebuah realitas baru yang harus dihadapi masyarakat yakni semakin berkurangnya sumber-sumber air tanah untuk konsumsi masyarakat sehari-hari. Beberapa aktifis street art Yogyakarta juga pernah mengkritisi keadaan berkurangnya sumber air tanah tersebut sebelumnya yang menandakan bahwa “kota harapan” ini menyimpan masalah. Disini, karya yang berjudul (sumur) menceritakan bagaimana sumber-sumber air tanah “dicuri” demi kepentingan komersial, air sumur menjadi korban pembangunan kota.

 Menepi dari pemandangan besi-besi dan semen basah ala pembangunan kota, Angga Yuniar juga juga memantau, mengamatikemudian menceritakan keadaan dan figur-figur di lokasi tempat pulang. Sebuah perkampungan yang identik dengan solidaritas sosial. Dimana tetangga memiliki peran yang penting dalam kehidupan sosial masyarakat pinggiran kota. Solidaritas yang dimiliki oleh masyarakat adalah sebuah hubungan antar individu dan kelompok yang menjadi dasar hubungan saling terikat secara moral dan spiritual (Durkheim dalam Lawang, 1994:181).
 Seperti misalnya masyarakat kelompok petani di desa Ngrendeng (Studio Berkarya seni milik Tembi Rumah Budaya) memiliki ikatan moral yang sama untuk saling membantu dalam proses pertanian. Berbeda dengan dusun Cabeyan yang memiliki solidaritas sosial melalui kegiatan spiritual. Di dalam karya yang menunjukkan relasi solidaritas masyarakat yang kuat, dengan memperlihatkan gambaran pintu tua dari kayu yang terkesan rapuh, bangunan mulai roboh dengan lubang disana-sini. Apabila solidaritas sosial di kota justru lebih menekankan pada pola kerja dan pembangunan. Solidaritas sosial masyarakat di Pinggiran kota lebih menekankan pada hubungan antar sesama manusia itu sendiri (Dhurkheim: 236). 
 Beralih dari ide penciptaan menuju ke karya fisik, secara teknis, Angga Yuniar masih menyuguhkan karya kerja yang padat, ia membuat sebuah kondisi dan menempatkan objek berada di tengah kerumitan ornamen, tekstur landscape maupun benda-benda kecil yang sering dijumpai berserakan di lingkungan sekitar yang ia sebarkan pada tiap sudut karya kerja nya. Karya-karya tersebut menjadi begitu menarik karena diolah dengan warna-warna gelap seperti abu-abu, coklat hijau khas alam (earth). Tentu saja warna-warna tersebut cukup mewakili sebagai cara untuk menyampaikan sebuah pengamatan alam dan lingkungan sekitar.
 Angga mengembangkan ide-ide visualnya dengan memmbuat landscape dan figur bernuansa fantasy imajinatif namun tetap realis. Dari yang Imajinatif itulah akhirnya ia terapkan kepada karya-karyanya namun tetap menyuguhkan sebuah realitas di dalam lukisan yang realistik. Pengamatan merupakan sebuah point penting dalam mewujudkan data-data menjadi karya kerja. “Holes Arround Me” merupakan pameran yang akan menyuguhkan pemandangan visual yang beragam namun dekat dengan kita. Dengan persembahan pameran Program Residensi ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan dan menambah kekayaan karya pemuda kreatif serta kritis yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta.
--------
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif  Kualitatif & RND Bandung: Alfabeta.
Spradley J. (1980). Participant Observation. Holt, Rinehart, and Winston  New York.
Johnson, Doyle Paul. 1981. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Terjemahan Robert MZ Lawang. 1994. Jakarta : Gramedi Pustaka Utama.
--------------------. The Dhurkhemian Perspective. Ch.6 : 236. http://www.clas.ufl.edu/users/llkkll/law&soc/trevino.durkheim.pdf


0 komentar:

Posting Komentar

 

Flickr Photostream

Twitter Updates

Meet The Author